Senin, 31 Maret 2014

Ketika Menyok Lebih Berarti dari Minyak

Tak semua orang tergiur manisnya aroma minyak. Mbok Jinah, penjual Gethuk di ladang migas Blok Cepu satu diantaranya.
Perempuan tua itu tampak leluasa memarut beberapa potongan kelapa yang digenggamnya. Dia berdiri tegap di belakang sebuah meja kayu berukuran 280 x 40 cm. Tajamnya alat pemarut yang hanya berjarak beberapa centimeter dari jemari tangannya tak begitu diindahkan. Tak berapa lama, kelapa itu perlahan mulai lembut, dan berjatuhan tertampung di atas sebuah baskom.
Dia adalah Mbok Jinah, begitu perempuan ini biasa disapa. Seorang penjual Gethuk, dari salah satu desa sekitar tambang minyak dan gas bumi (migas). Tepatnya di Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Desa yang masuk wilayah ring 1 ladang migas Blok Cepu.
Di kalangan masyarakat Jawa,  penganan ini merupakan makanan khas yang sudah tidak asing lagi. Akan tetapi sejalan perkembangan zaman, makanan yang sempat populer melalui sebuah lantunan lagu diera tahun 1990-an itu seakan telah memudar. Gethuk dianggap makanan yang terlalu tradisional.
Meski tidak serta merta demikian Gethuk olahan tangan Mbok Jinah terbilang laris. Lapak dagangannya pun tak pernah sepi pembeli. Sejumlah orang dari semua kalangan tua, remaja, hingga anak-anak datang silih berganti. Mereka rela mengantri.
Sesekali dia mendongakkan wajah, menyapa pembeli yang hendak memesan. Mbok Jinah begitu ramah, dan terlihat cekatan melayani pembeli. Dalam kesederhanaannya dia tetap bersahaja.
“Apapun bisa dilakukan untuk menyambung hidup,” ujar Mbok Jinah dalam bahasa Jawa halus.
Terjangan arus modernisasi dan industrialisasi seperti sekarang ini, tak menghalangi Mbok Jinah mengais rezeki dari hasil jualan makanan berbahan baku Menyok (Singkong) itu. Apalagi industrialisasi di Kecamatan Gayam, dan sekitarnya kian menggeliat merangsek masuk di tengah kehidupan masyarakat.
Dia sadari keberadaan industrialisasi mega proyek migas Blok Cepu membawa dampak perubahan sosial ekonomi. Namun demikian, Mbok Jinah tak begitu berharap banyak berkah dari eksploitasi kekayaan alam itu. Ibarat kata, bagi Mbok Jinah, Menyok serasa lebih berarti daripada minyak.
Disela-sela kesibukannya melayani pembeli, dia melanjutkan ceritanya tentang Gethuk buatannya. Tak terbayangkan dalam angan Mbok Jinah jika produknya bakal selaris itu.Tak ada resep khusus, Mbok Jinah membuatnya dengan penuh perasaan dan naluri seorang pribumi.Sementara dia sama sekali tak tahu perkembangan industri terkini. Seiring berjalannya waktu, tak terasa apa yang digelutinya sudah berjalan puluhan tahun lamanya.
“Kalau dihitung ada 20 tahunan.Syukur masih banyak yang minat.” kata Mbok Jinah. Didampingi sang suami, Sudirman, perempuan ini begitu telaten menekuni usaha tersebut.
Hidup baginya ibarat air  yang mengalir, terus bermuara untuk menemukan jatidirinya. Tak terbesit dalam benaknya untuk berjualan Gethuk. Dia juga tak ingat sejak kapan memulai belajar membuat Gethuk. Jangankan angka tahun saat pertama membuat Gethuk, tahun kelahirannya pun Mbok Jinah tak ingat.
Perempuan yang tinggal di desa terdekat dengan sumur migas Banyuurip yang dioperatori Mobil Cepu Ltd (MCL) ini ternyata buta huruf. Untuk menyebutkan berapa tahun kelahirannya saja sudah tidak bisa. Hal itu karena diakuinya tidak pernah duduk di bangku sekolah.
“Jaman saya kecil dulu hanya orang tertentu yang bisa masuk sekolah,” ungkap Mbok Jinah,
Bisnis yang dilakoninya memang tak ada korelasi positif dengan geliat ladang migas Blok Cepu. Meski begitu, beroperasinya sumur minyak disana kian menjadikan Gethuk Mbok Jinah populer. Dagangan yang dia buka sekira pukul 12.00 WIB, menjelang petang sudah habis terjual.
Beragam tanggapan postif datang dari sejumlah pembeli. Banyak yang tertarik dan penasaran dengan Gethuk buatan Mbok Jinah. Dari mulut ke mulut makanan warga pinggiran ini dikenal. Tak ayal, sekelas pejabat tinggi operator Blok Cepu, Deputy Manager MCL, Elvira Putri, sempat singgah di tempat Mbok Jinah menjajakan Gethuknya. Selain gurih, nilai tawarnya terdapat pada cita rasanya yang alami.
“Beda dengan Gethuk yang pernah saya makan sebelumnya di daerah lain. Rasanya alami tanpa campuran bahan kimia,” kata Elvira pada suatu kesempatan.
Gethuk Mbok Jinah seolah mampu menghadirkan satu rasa kebersamaan. Tanggapan lain juga berasal dari salah satu perangkat Desa Gayam, Suwarji. Menurutnya, Gethuk sudah seperti ikon dan bagian dari budaya masyarakat Jawa pada zaman dulu.
“Nenek moyang kita dulu juga makanannya seperti ini. Selain gethuk, biasanya nasi jagung,” kata Suwardji.
Mbok Jinah membuat dua jenis warna gethuk, warna putih, dan agak kemerahan. Dia menyesuaikan dengan minat pembeli.
“Yang warna agak merah yang lebih disukai anak-anak, sedangkan warna putih untuk yang lebih tua,” tutur Mbok Jinah.
Sementara itu, menurut suaminya, Sudirman, dalam setiap harinya menghabiskan 3 sampai 5 Kg singkong untuk bahan baku. Singkong itu dikulak dari Desa Ngambon, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro.
“Biasanya saya membawa dua sampai tiga karung singkong untuk persediaan. Harga perkilonya berkisar Rp2.000,” ucap pria berumur 55 tahun itu.
Setiap porsinya dijual dengan harga Rp1.000. Sedangkan jika menambah gorengan tempe, diharhai Rp2.000. Tidak hanya itu saja, selain gethuk, Mbok Jinah juga menjual kelontong tahu kecap, dan sayur lodeh. Kemudian ada lagi, minuman kopi “kothok” dengan aroma dan rasa khasnya.
Mbok Jinah dan suaminya bersyukur dengan apa yang telah dikerjakannya. Keduanya bisa hidup mandiri tanpa menggantungkan berkah minyak, dan kedua anaknya yang sudah berumah tangga. Baginya, Gethuk sudah cukup memberikan penghidupan untuk keluarga. Kesehariannya hampir disibukkan dengan membuat makanan khas ini.
“Dulu saya juga sempat berkeliling, menawarkan Gethuk, kalaupun sekarang laris ya Alhamdullilah, hanya dari ini sumber penghidupan kami,” demikian ucap Mbok Jinah. penuh rasa syukur. (Athok Moch Nur Rozaqy)



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Athok MN Rozaqy, Published at 03.09 and have 0 komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar